Sejarah Bir Di Indonesia • BEERGEMBIRA.COM
Sejarah Bir Di Indonesia
Posted by | Thursday, 30 April 2015

Jauh sebelum brewery ada di Indonesia, sangat mustahil untuk dapat menikmati sebotol bir dingin. Ini disebabkan karena minimnya faktor SDM dan hal-hal teknis yang dianggap kurang mumpuni pada saat itu. Satu-satunya jalan untuk bisa menikmati bir di sini adalah dengan cara mengimpor. Namun lagi-lagi, untuk mengimpor barang dari luar Indonesia kala itu, moda transportasi yang lazim digunakan adalah melalui jalur laut. Ini bisa memakan waktu yang cukup lama dan mengakibatkan kondisi bir menjadi kurang bagus setibanya di Indonesia. Maka dari itu, bangsa Belanda lalu memutuskan untuk mendirikan sebuah brewery di Indonesia untuk mengakomodir kebutuhan akan bir tersebut.

Sejarah bir di Indonesia dimulai pada tahun 1929, di mana saat itu bangsa Belanda yang dalam masa pendudukannya di Indonesia, mendirikan sebuah brewery yang berlokasi di Surabaya. N.V. Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen atau yang dulu juga dikenal dengan nama Java Brewery adalah nama dari brewery tersebut. Bir yang diproduksi di sana lalu dikenal dengan nama Java Bier.

 

history1

Di tahun 1937, Java Brewery melakukan renovasi pabrik dan memperluas jaringan usahanya. Tidak berselang lama, nama perusahaannya pun berganti menjadi Heineken’s Nederlands-Indische Bierbrouwerij Maatschappij. Sejak saat itu penjualan bir Heineken mulai merambah pasar Indonesia dan impor bir Heineken kemudian dihentikan. Satu fakta yang cukup menarik pada masa itu, orang kerap memesan bir Heineken dengan menyebut “Bintang” karena gambar bintang berwarna merah yang memang ada di logo Heineken tersebut.

histroy2

Pasca Perang Dunia II, tepat sebelum Jepang akhirnya menyerah, Republik Indonesia diproklamirkan. Setelah penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia pada 27 Desember 1949, perusahaan bir Heineken tetap menjalankan operasinya dengan nama Heineken’s Indonesia Brewery ME. NV.

Pada masa Demokrasi Liberal (1950-1957), pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan kapital nasional, di mana perekonomian sepenuhnya diserahkan kepada pasar. Ini membuat para pengusaha non pribumi harus angkat kaki dari Indonesia, termasuk pula Heineken. Kondisi ekonomi Indonesia saat itu semakin buruk karena pengusaha pribumi masih belum sanggup bersaing dengan pengusaha non pribumi.

Masuk ke era Orde Baru, Heineken kembali mengambil alih tempat pembuatan bir di tahun 1967 dan namanya kemudian berganti menjadi PT Perusahaan Bir Indonesia. Di tahun 1982, PT Perusahaan Bir Indonesia mengubah namanya menjadi PT Multi Bintang Indonesia. Dan hingga kini Multi Bintang tetap melakukan proses brewing untuk Bir Bintang dan Heineken.

Mari kita tarik mundur lagi ke tahun 1931, tepatnya di bulan Agustus, di mana N.V. Archipel Brouwerij Compagnie didirikan oleh Geo Wehry & Co. Unit usaha ini dibentuk dengan tujuan sebagai pabrik pembuatan dan penyulingan bir serta minuman berkarbonasi dengan es. Pabrik ini lalu dikenal sebagai pengimpor untuk bir-bir buatan Bremen di Jerman kepada brewery Koentji Beer di Indonesia.

Brewery yang pertama didirikan terletak di Batavia. Dibuat dengan menggunakan teknologi baja framing, sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya di daerah kolonial Belanda. Geo Wehry & Co. awalnya ada perusahaan dagang besar yang bergerak di bidang tembakau. Namun sejalan dengan waktu, perusahaan ini akhirnya bergabung dengan perusahaan lainnya yang bernama Borsumij dan Hagemeyer di saat pemerintahan kolonial Belanda didirikan.

history3

Pada tanggal 8 April 1933, Archipelago Brewery resmi beroperasi. Produk-produk bir yang dihasilkan oleh pabrik ini, seperti bir Diamonds, Anker, dan Kris, cukup mendapatkan respon yang positif.

11 Mei 1940, seluruh perusahaan Jerman di wilayah Hindia Belanda harus beroperasi di bawah pengawasan pemerintah Belanda, termasuk di dalamnya N.V. Archipel Brouwerij Compagnie. Ini menyebabkan Archipel harus menjual perusahaannya kepada N.V. Borneo Sumatra Maatschappij, atau yang lebih dikenal dengan nama Borsumij. Setelah masa kapitulasi Jepang di tahun 1945, 30.000 hektoliter bir yang sudah tersimpan dalam sistem di brewery tersebut diolah dan dijual kembali oleh brewmaster yang baru yang bernama Kees van Bommel.

Memasuki era 1960-an, brewery tersebut diambil oleh oleh pemerintah kota Jakarta dan sekelompok orang Indonesia dikirim ke Eropa untuk belajar di sekolah brewing. Tidak berapa lama kemudian, brewery tersebut diambil alih pengoperasiannya oleh San Miguel Corporation dari Filipina. Saat ini, PT Delta Djakarta Tbk, merupakan bagian dari grup San Miguel Corporation dan Anker Beer yang hingga kini masih memproduksi bir jenis lager dan stout.

*Tulisan ini disadur dan dialihbahasakan dari www.beercoasters.it

Share This:

Comments